Tentang Feminisme

Saya baru saja selesai membaca buku We Should All Be Feminists yang ditulis oleh Chimamanda Ngozi Adichie.

Wow.

Sungguh ya, rasanya ingin beli buku ini beberapa lusin lalu saya bagi-bagiin secara random di tempat umum.

Sebelum membahas buku ini, saya mau berbagi satu cerita.

Beberapa saat lalu (sebelum buku ini saya beli), salah satu teman saya dengan kesal mengirimkan pesan di WhatsApp. Katanya dia sedang duduk di kafe dan tidak sengaja, dua wanita yang duduk di sebelahnya berbincang-bincang keras sekali. Awalnya dia tidak terlalu menggubris namun pembicaraannya menarik perhatian teman saya ini.

“Eh lu tau yaaa, gue dulu hampirrrr aja masuk paham itu…apa sih namanya…feminisme ya? Iya itu!”

“Hah! Yang bener lu?”

“Iya! Gw udah hampir aja gak mau kawin, eh tapi untungnya gw ketemu cowok gw sekarang!”

“Ihhhh untung banget ya lu gak masuk ke paham itu!!”

(HAHAHAHA)

Saya memang langsung tertawa ketika teman saya itu selesai bercerita tentang percakapan kedua wanita ini. Langsung saya bilang, “Mungkin mereka berpikir feminisme itu semacam cult yaaa..”

Seperti kedua wanita di cerita teman saya, ternyata banyak orang, baik wanita maupun laki-laki yang menganggap bahwa feminisme itu adalah istilah yang cenderung dianggap negatif. Jika seorang wanita mengidentifikasi dirinya sebagai seorang feminis, terkadang terdengar komentar-komentar tidak sedap seperti “pasti single”, “pasti susah cari suami”, “galak banget” dan sebagainya.

Then a dear friend told me that calling myself a feminist meant that I hated men.

Saat saya masih SD, saya sering ikut latihan ekskul musik. Biasanya saya main pianika, namun suatu hari saya iseng bermain drum. Guru saya, seorang lelaki, berkata, “Agata! Ngapain? Cewek kok mainan drum!”.

Saat itu saya masih kecil dan tidak paham maksud guru saya ini, namun saya merasa ada yang salah dengan pernyataannya.

Untungnya, keluarga saya cukup liberal. Mama dan papa saya selalu mengatakan kepada saya dan adik perempuan saya bahwa kami harus berusaha sebaik mungkin untuk menggapai impian kami, apapun impian itu. Kami harus independen dan tidak pernah diburu-buru untuk mencari jodoh agar segera menikah. Bahkan mereka berkata jika kami belum siap menikah, sebaiknya jangan menikah dulu.

Namun persoalannya, masyarakat di sekitar kami sangat berpengaruh karena masyarat kita sifatnya komunal. Pasti anda sendiri sudah pernah dengar pernyataan-pernyataan seperti “cewek itu harus bisa masak!” atau “aduhh cewek kok ngomongnya begitu” atau “cewek itu ya mbok dandan tho”.

Kenapa hanya perempuan yang diserang? Apakah laki-laki juga tidak perlu tahu caranya memasak?

Karena setiap hari diekspos dengan pernyataan-pernyataan yang membatasi ruang gerak seorang perempuan, di rumah pun terkadang keceplosan seperti misalnya, “Hayoo, Agata, kamarnya dirapikan, cewek kok berantakan gitu kamarnya!”. Sebenarnya pernyataan itu bermaksud untuk mengingatkan saya, namun karena saking seringnya hal-hal yang berbau domestik dikaitkan dengan “keahlian” perempuan maka pernyataan itu jadi bersifat seksis. Pernyataan itu jadi bersifat biasa.

If we do something over and over again, it becomes normal. If we see the same thing over and over again, it becomes normal.

Seperti yang dituliskan oleh Adichie, jika sesuatu dilakukan berulang-ulang secara terus menerus, maka akan menjadi hal yang biasa. Hal buruk pun, akan menjadi biasa.

Ketika ucapan-ucapan seperti ini terlontarkan, kami selalu saling mengingatkan. Untungnya mama dan papa saya tipe orang tua yang sama sekali tidak keberatan anak-anaknya berpendapat. Kami suka berdiskusi dan kalau memang salah, mereka tidak segan-segan meminta maaf. Sebagai keluarga, kami masih terus menerus belajar untuk memperbaiki diri dan mengupgrade pengetahuan kami seiring dengan berkembangnya zaman.

img_0774

Saya terpaku dengan pernyataan berikut ini yang tertera di buku:

We teach girls to shrink themselves, to make themselves smaller. We say to girls, ‘You can have ambition, but not too much. You should aim to be successful but not to successful, otherwise you will threaten the man. If you are the breadwinner in your relationship with a man, pretend that you are not, especially in public, otherwise you will emasculate him.’

Rasanya pernyataan di atas itu benar sekali, karena saya pernah merasakannya (dan saya yakin, bukan saya satu-satunya yang pernah merasakannya). Saya sudah tak tahu berapa kali seseorang berkata kepada saya, “Jangan sekolah terus, nanti susah cari pacar!”.

Zaman sudah berubah, maka kita pun harus berubah. Feminisme bukan berarti wanita ingin menjadi nomor satu (sepertinya banyak yang berpikiran seperti itu), namun ini tentang kesetaraan.

Sampai saat ini, saya masih belajar untuk menjadi seorang feminis. Saya tahu ada masalah dengan gender dan saya ingin membantu untuk memperbaikinya. Namun saya gak bisa melakukannya sendiri, saya butuh bantuan anda juga.

board-1647323_1280
Foto dari sini
Buku garapan Adichie ini tidak tebal, hanya 48 halaman. Bacanya pasti gak akan lama, bahasanya mudah dipahami. Namun, isinya begitu penting. Kalau anda tertarik, anda bisa baca buku ini. Kalau tidak mau membeli, anda bisa juga dengarkan TEDx Talk-nya (buku ini berdasarkan TEDx Talk ini).

Advertisements

40 thoughts on “Tentang Feminisme

  1. Rasanya aku sering denger itu deh, aduh cewek cewek jangan sekolah tinggi nanti susah dapet pacar. Cewek jangan cuek, dandan dong biar dapet pacar. Cewek jangan terlalu sukses, terlalu pintar, terlalu bla bla bla. Cewek jangan traveling mulu, nanti cowoknya minder. Terus aku kudu piye?

    Like

    • Memang komentar2 seperti itu sering juga aku dengar. Kadang kutanggapi, ajak merek diskusi/debat ringan…tapi kalau sedang malas yaaa diemin saja. Masalah aku dapet pacar atau gak atau sekolah tinggi atau gak, itu kan urusanku hehehe

      Like

  2. Untungnya keluarga gw mendukung sih segala keputusan gw apalagi soal pendidikan. Skrg aja disuruh ngambil Phd gw dah malesss bgt.
    Dari gw kecil bonyok punya cita2 kedua anak ceweknya mandiri, jadi gak tergantung cowok. Adanya skrg terlalu mandiri, bonyok lgs pusing 😬😂

    Like

  3. Bener banget! Dari kecil sering denger yang gituan.
    “Cewek kok kamarnya berantakan. Malu. Nanti blablabla”.
    atau
    pas mau les gitar, “Jangan ih, cewe kok main gitar. Les biola aja”.

    *Langsung masukin buku ini the reading list* hehehe.

    Like

    • *sigh* memang itu sudah jadi “kebiasaan” masyarakat kita ya, tapi gak cuma di Indonesia. Si penulis ini asal Nigeria dan di sana pun juga terjadi hal yang sama. Memang secara worldwide, cewe dianggap “second class citizen”. Ayok Shar, pendek banget bukunya. Klo gak dengerin TEDx Talknya aja 🙂

      Like

  4. Aduh!!! Hear hear banget ini!!! Aku berusaha meyakinkan temen2 yg ada di Indonesia bahwa paham feminisme itu adalah minta kesejajaran hak dan pilihan hidup dengan laki2, bukan paham anti cowok, entah siapa yg dulu propaganda begitu, berhasil banget kayaknya *sebel*

    Aku dulu sama dibilang anak perempuan jangan begini dan begitu, bahkan ketika sampai aku jadi insinyur dan kerja di infrastruktur disini nyokap masih tanya apa itu kerjaan “cewek” (ya tarik napas dalam dalam… tapi kalau untuk nyokap masih maklum karena generasi gap ya). Yg bikin gengges itu kalau perempuan seusia kita yg sok tau tapi salah kaprah

    Liked by 2 people

    • Bener banget! Malahan yang sering bikin gw jengkel itu kalau sesama perempuan, seumuran, yang bukannya menolak tp malah seakan “mengiyakan” pelecehan2 terhadap perempuan. Kayak ejekan2 ttg cewek, malahan ikutan digong-in. Lelah banget yah kadang, tapi menurut gw ya hrus ambil sikap lah. Katanya mau maju, ya harus semua diupgrade, termasuk pemikiran dan sikap. Jangan cuma barang2nya aja yg kekinian, pengetahuannya juga harus kekinian donk.

      Liked by 1 person

  5. Ini kayaknya masih perjalanan panjang banget di Indonesia, krn masih kentel dicampur tradisi sama agama, yg katanya perempuan harus nurut kodrat sama yg aku lihat di path screenshot katanya ada yg kena sexual harassment di halte bis di Jakarta yg nyalahin pada cewek semua krn pake rok mini lah, pake munggungin si bapak lah,… bikin gemes.

    Liked by 1 person

    • Yah gitu lah masih pemikirannya kayak gitu. Cewek selau aja disalahin karena pakaiannya lah, dianggap penggoda lah. Sexual harassment juga ujung2nya selalu cewek yang dituding, orang selingkuh juga yang disalahin ceweknya (padahal ya dua2nya salah lah) 😏 trus kalau gw (atau cewek2 lain) geram tentang hal ini, kita dianggap “lagi mens yak?” “Galak bgt pantes gak kawin2” 🙄🙄

      Liked by 1 person

  6. Wah langsung aku masukkan daftar buku yg akan dibeli (beli mulu bacanya kapan haha). Yg masalah sekolah tinggi, aku ngalamin. Pas memutuskan resign dan ngelanjutin s2, dan pada waktu itu umurku 31, banyak yg komen : bukannya nyari suami malah sekolah lagi, laki2 takut lho dengan perempuan yg sekolahnya tinggi. Simpel aku mikirnya : ya berarti laki2 itu bukan buat aku haha. Lah ngapain aku nyari laki2 yg minderan. Eh pas ditengah2 kuliah malah aku nikah. Setelah nikah, suamiku jadi terpacu untuk ngelanjutin s2 karena dia ngelihat aku yg kuliah s2. Jadi waktu itu akhirnya kami sama2 jadi anak kuliahan di tempat berbeda haha. Lulusnya beda 6 bulan. Nah itu maksudku, jangan jadikan gender atau umur sebagai halangan untuk maju. Gimana kalau misalkan aku dulu memutuskan ga kuliah dengan alasan takut ga dapat jodoh karena sekolah ketinggian? Sekarang suami malah nyuruh2 aku ngelanjutin Phd, langsung aku mumet haha.

    Liked by 2 people

    • Iya mbak bener sekali! Buku ini pendek kok mbak, gak sampe 1 jam juga hueheheheh. Saya juga berpikir begitu, kalau cowok minder karena saya berpendidikan tinggi, ya memang bukan untuk saya. Untuk mengerti paham feminisme memang masih susah apalagi di Indonesia. Salut dengan mbak, daannn…ayo mbak S3 huakakakakk (aku jg mumet mbak kalau udah bahas S3 😅😅)

      Like

    • Kalau udah ngomongin “kodrat” seakan semua opini gw ttg gender gak yg penting KARENA KODRAT (gak peduli masuk akal ato gak, pokoknya ya kodrat lo sebagai perempuan ya gitu, terima aja, no arguments) 🤦🏻‍♀️

      Like

  7. Aggy, Dari kecil aku (usia SMP) aku udah tertarik feminisme karena stigma dan norma yang menurutku mengekang perempuan. Untuk yang ngga ngerti akan bingung kalo tahu aku feminis, a happily married one. Banyak temenku yang tahu aku feminis kaget sewaktu aku menikah muda. Menurut mereka feminis = anti lelaki & mau sama seperti lelaki. Padahal gerakan ini sendiri sudah berkembang dengan beberapa gelombang. Aku mengalami third wave feminism mid 90 dengan fokus ke gender equality & assertivity. Dan sekarang ada fourth wave feminism juga; empowering women.

    Orang yang mau tahu lebih banyak dan ngerti tentang feminisme sebaiknya banyak baca supaya runtut dan paham materinya. Sayangnya ada yang kadung negatif sekali ke feminisme dan mencap ini sebagai hal yang menakutkan. Aku udah baca bukunya Chimamanda Ngozi Adichie, it is a great book indeed! Dan aku seneng kamu tulis ini Aggy. Soalnya bahas feminisme banyak facetnya dan debat yang ora uwisuwis.

    Liked by 2 people

    • Iya mbak bener banget. Orang juga kaget kalau dengar laki-laki itu juga bisa menjadi feminis. Ini menurutku kurang pengetahuan saja, kurang baca, seperti yang mbak bilang. Saya terkadang males berdebat kalau orangnya ngotot dan gamau kalah, bawa2 tradisi dan agama. Seakan gak ada jalan keluar. Memang paham feminisme ini di Indonesia sudah mulai banyak dipahami oleh beberapa orang, tapi persentasenya masih sangat sedikit kalau dibandingkan dengan populasi Indonesia. Jadi menurutku, ini tugas generasi muda ya untuk lebih memahami paham ini dan menurunkannya ke generasi berikutnya.

      Like

      • Iya. Aku sih sekarang sebagai feminis fokus ke gender equality; kesempatan yang sama dan merata untuk lelaki dan perempuan dalam pekerjaan, politik, hukum, ekonomi, pendidikan dan status sosial. Aku sadar bahwa perempuan ngga akan bisa seperti lelaki, fisik dan emosinya beda. Hanya dalam hal yang aku sebut di atas ini, posisi perempuan masih terbelakang.

        Gila kan kalau berpikir hak pilih perempuan baru ada awal tahun 1900-an. Sementara berabad-abad sebelumnya semua keputusan dalam masyarakat yang perempuan juga rasakan dampaknya, yang buat dan mejalankan hanya lelaki. Ini hanya satu contoh dari banyak hal yang aku rasa ngga logis kalau kita lihat dari sudut pandang equal chances. Ah aku stop di sini aja Gy, bahas begini enaknya offline, kalo ada waktu dan kesempatan kita bisa ketemu. Bisa ngobrol seru.

        Yang terakhir, tanpa disadari banyak perempuan yang cara berpikirnya mendukung kesetaraan gender tapi mereka enggan disebut feminis ya karena momok yang melekat di gerakan ini. Malah jadinya ada juga perempuan yang mencela sesama perempuan, miris aku. Udah ah, over and out! 🙂

        Liked by 1 person

      • Iya mbak, ngobrol kayak gini enaknya offline sambil nyruput kopi (atau wine saja?!). Aku geramnya ya itu, wanita2 yang bukannya saling mendukung wanita lain untuk independen tapi malah ikut merendahkan. Sedih banget kalau lihat yang begitu 😦

        Like

  8. Keluarga gue dari pihak almarhumah nyokap masih banyak tuh yang suka ngomong “Duh cewek kok ga dandan” “Duh cewek kok ga rajin” dll. Untungnya gue ga deket sama mereka. Gue sendiri ngga tau gue feminis apa nggak tapi gue percaya dengan kesetaraan cewek dan cowok. Eh itu mah feminis ya?! Hehehe. Bukunya menarik, akan gue coba cari.

    Like

    • Rata-rata di Indonesia banyak orang yang seperti itu Tal. Mereka ngomong gitu karena ya normanya begitu. Tapi kan sekarang dah gak zaman lagi ya. Klo di buku ini, si Adichie bilang dia masih harus “unlearn” banyak hal yg terkait gender dan tradisi. Rasanya sama untuk kita semua, hal2 yang udah jd “norma” yg intinya merendahkan wanit, ya harus diunlearn. Selamat membaca Tal!

      Like

  9. Bagus post-nya Aggy 🙂 Ini juga termasuk salah satu buku favorit aku, dan Adichie ini termasuk salah satu orang yang paling eloquent & vocal dalam menjelaskan feminisme. Sayang ya di Indonesia masih banyak yang salah kaprah, kalo feminis berarti jadi anti kaum pria, ga mau nikah, dll. That’s not the point. Banyak orang2 di sini yang nganggep feminisme itu hal yang negatif karena kontra dengan culture dan ajaran agama, kalo yang udah begini sih susah ya diajak diskusi 😦

    Like

    • Thanks Dixie! Udah lama banget pingin beli buku ini dan baru sampe bukunya 2 mgg an lalu langsung duduk dan dilahap habis hahahaha. Iya bener banget, kalau mau diskusi hayuk ya, tp kadang gamau berpikiran terbuka, malah nyalah2in dan ujung2nya dianggap menentang agama dan tradisi. Yaudah deh, klo sama yang kayak gini lbh baik dibiarkan cool down dulu aja. Mau kita “ceramah” terus juga malah makin panas hahaha. Suka banget ama Adichie, tulisannya bagus, to the point dan relatable banget!

      Liked by 1 person

  10. Udah lama pingin baca buku ini. Tipis kan ya, mayan bikin target baca buku tahun ini jadi ringan 😀
    Gw sih udah dari dulu sebenernya meragukan beberapa “kodrat” perempuan, termasuk dalam hubungan. Waktu pertama pacaran dan pacar (now ex) selalu minta dibikinin teh manis, gw ngerasanya oh ya sebagai cewek emang harus melayani. Sekarang gw ngerti sih, dia aja yang males dan memanfaatkan. Loh kok jadi curcol 😀
    Sekarang sih keresahan gw soal ketidaksetaraan dalam hubungan ini udah mayan reda tapi kalo gw belum nikah itu cerita lain ya 😉
    Dan kalo debat mulai panas, cewek harus gini, cewek harus gitu, gw pake jurus pamungkas gw: “Cewek tinggal ngangkang aja, beres kan?”

    Liked by 1 person

    • Tipissss buanget, palingan 30 menit – sejam kelar. Ayokkk beliiii! Dulu pernah kejadian yg mirip, tp sama sodaraku. Dia cowo dan sangat diladeni di rumahnya. Dtg ke rmhku mnta mi, gw ama adek awalnya bikinin (ya pikirnya rmh kt, dia tamunya walopun kan rmh ini sbnrnya kayak rumahnya jg wong sering main). Abis kelar bikin, bukannya makasih, malah “anterin donk ke sini, aku kan cowo ya dilayani donk”. Adek gw lgsg kesel dan blg “punya kaki kan? Nih ambil sendiri!” Trus kita tinggal pergi huahahahaaha. Loh malah curcol juga wkwkwkw. Jurusnya oke tuh, mgkn bisa gw praktekkan juga hahahaha

      Like

  11. wah kayaknya seru nih. Emang banyak orang salah kaprah soal feminisme. Termasuk sebenernya yang berjilbab itu feminis loh, memperjuangkan haknya dan gak mau di liat “di dapur” mulu

    Like

  12. Ah, senangnya baca tulisanmu, Gy 🙂 Bikin senyum2 sendiri. Ah, mau laporan yg oot nggak papa ya! Akhirnya aku sudah ke Tiong Bahru market. Puas makan macem2 dan asking enaknya besoknya langsung balik lagi dan mengulang makan yang sama 😅

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s