Female Unicorns Series: Lek Chailert

Udah lama banget gak update seri “Female Unicorns” ini. Kali ini saya mau ngenalin seorang wanita bernama Sangdeaun Lek Chailert yang berasal dari Thailand.

Pertama kali saya mendengar nama Lek Chailert adalah ketika saya mengikuti konferensi AWE (Asian’s Women Empowerment) di tahun 2013. Saat itu Lek Chailert dimasukkan sebagai salah satu pembicara.

Jujur sebelum acara ini saya belum pernah dengar namanya. Ketika Lek memulai sesinya, saya langsung tertarik dengan apa yang dia sampaikan.

Sudah dari kecil Lek tertarik dengan binatang, terutama gajah. Gajah merupakan simbol nasional negara Thailand namun banyak sekali gajah-gajah yang disiksa atas nama tourism dan entertainment. Ketika melihat nasib gajah-gajah ini, hati Lek tergerak dan dia pun memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya untuk memberi hidup yang lebih baik bagi gajah-gajah ini.

art-1846402_640
Foto dari sini
Sudah sangat biasa di Thailand untuk melihat gajah ditumpangi oleh turis, atau gajah “pintar” yang bisa menari atau melukis. Namun Lek menjelaskan di sesinya bahwa sebenarnya gajah-gajah ini dapat melakukan semua itu karena sudah dilatih oleh pelatihnya atau mahout. Cara melatih gajah-gajah ini ternyata menyeramkan, dari merantai hingga memukuli. Intinya gajah-gajah ini tidak bisa menikmati hidupnya, melainkan disiksa hanya supaya turis bisa melihat atraksi “kepintarannya”.

Melihat hal ini Lek sangat sedih dan sebagai orang yang seumur hidupnya dekat dengan binatang, dia pun tidak tinggal diam. Pekerjaan Lek bukan sesuatu yang mudah. Dia menyampaikan bagaimana kerap kali dia harus beragumen keras dengan para mahout dan bahkan pemerintah. Dia juga mengaku sudah beberapa kali dijebloskan ke penjara dengan tuduhan-tuduhan yang tidak menyenangkan.

Pada sesi itu, Lek bertanya “Why should we let these animals suffer for our pleasure and entertainment?”.

Dia menunjukkan beberapa foto miris nasib gajah-gajah yang ia selamatkan. Beberapa kondisinya sudah sangat parah, namun Lek tetap mengambil dan merawatnya dengan sabar hingga bisa pulih. Saat itu juga hati saya langsung tergerak. Kok kita, manusia, jahat banget ya sama binatang? Sedih banget.

Lek bukan hanya menolong gajah-gajah ini namun dia juga melakukan pelatihan kepada para mahout. Dia memberi pengertian dan menjelaskan tentang konsekuensi perlakuan mereka apabila gajah-gajah ini dilatih dengan kekerasan.

Saat ini Lek Chailert memiliki sebuah organisasi bernama Save Elephant Foundation di Chiang Mai. Misinya adalah untuk menyelamatkan gajah-gajah di Asia. Anda bisa mengunjungi “rumah” Lek ini di Chiang Mai, anda juga bisa melakukan kerja voluntir di tempat ini. Selain gajah, di tempat ini Lek juga menyelamatkan binatang-binatang lain seperti anjing. Lek juga ingin pekerjaannya tidak hanya berhenti dengan dirinya, maka dari itu dia selalu melakukan berbagai macam pelatihan ke warga lokal dan dengan adanya organisasi ini turis juga dapat mendapatkan pengetahuan lebih tentang gajah sehingga bisa lebih peka terhadap kekerasan terhadap binatang, terutama gajah.

Lek sangat aktif memperjuangkan hak binatang. Dia selalu sedia untuk mendengarkan apabila ada penyiksaan binatang, terutama jika terjadi di area Asia Tenggara.

Saya kagum sekali dengan Lek. Orangnya rendah hati dan terlihat dia sayang sekali dengan binatang. Saya semakin lebih paham tentang turisme yang melibatkan binatang, apalagi jika binatang-binatang tersebut tidak diperlakukan secara adil. Sejak itu saya juga gak mau diajak naik gajah, kasian.

24321600042_238626d8e8_z
Lek Chailert di acara AWE 2013
Kalau ingin lebih tahu tentang organisasi ini dan siapa Lek Chailert, bisa langsung saja kunjungi website Save Elephant Foundation.


DID YOU KNOW? Maret adalah Women’s History Month di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris dan Australia.

Advertisements

10 thoughts on “Female Unicorns Series: Lek Chailert

  1. Nice info. Semoga semakin banyak wanita2 spt Lek utk menyelamatkan binatang2 yg tersiksa… mdh2an kita juga bisa partisipasi dgn nggak sembarangan nonton pertunjukkan yg menyiksa binatang

    Like

    • Betul sekali mbak Shinta. Gara2 ketemu Lek saya juga semakin paham tentang binatang2 yang tersiksa di dunia turisme. Semoga semakin banyak wanita seperti Lek 🙂

      Like

  2. Wanita hebat yang menginspirasi. Dulu waktu kecil pernah main dengan anak gajah kecil di penangkaran daerah. Waktu mau pisah dia ngamuk ingin ikut.Sampai sekarang suka nggak tega kalau lihat gajah dijadikan hiburan…

    Like

  3. Wah bukan rahasia lagi klo binatang2 “pintar” itu disiksa habis-habisan. Semoga aja akan ada undang-undang yg mengatur tentang gajah dan pelatihan.

    Like

  4. Sadis ya. Sebagai penonton terkadang kita dibuat lupa dengan apa yang terjadi di belakang layar sebelumnya untuk mempersiapkan show yang kita tonton itu…

    Like

    • Iya Zil, pas gw nonton documentarynya itu gak tega banget. Mereka mukulin gajah-gajah ini pakai tongkat yang ada duri-durinya gitu. Duh kesian banget 😦

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s